Gomawo
Aku berjalan dalam diam. Sesekali aku menendang batu kerikil yang ada di dekat ku. Aku tak tahu sekarang aku berada di mana. Disini tampak asri. Sejauh mata memandang hanya tergambar warna hijau yang menyejukkan. Aku berhenti sejenak. Ku tatp awan putih di langit biru. Sejenak aku memandangi awan – awan tersebut. Aku baru menyadari aku ada di tepi jurang. Tempat ku berpijak kini adalah ujung dan dibawahnya terdapat jurang dengan batu tajam dan runcing siap untuk meghancurkan segala ang ada. Aku pun berfkir sejenak. Jika aku lompat dari tempat seperti ini, aku pasti akan lepas dari semua. Aku akan mati dan jasad ku tak bisa lagi diketahui. Omma dan appa pasti akan senang aku tida lagi mengganggu mereka. Baiklah, dunia, selamat tinggal. Omma dan appa, gomawoyo. Aku akan lompat dari tempat ini. Bagus sekali kan?
Satu, dua, tiga. Aku pun mulai menghitung. Aneh, kenapa aku tidak jadi terjatuh. Kulihat, ada tangan yang mencoba menyelamatkan ku.
“siapa kau?” tanyaku.
“ya! Apa yang akan kau lakukan?” ia justru balas bertanya.
“apa urusanmu,”
“kau tadi mau bunuh diri ya?”
“kalau aku jawab iya bagaimana?”
“kau benar – benar ingin mati?”
“iya, naku ingin mati. Kenapa?”
“mati? Kau itu bodoh ya?”
“tidak, aku tidak bodoh,”
“lalu, kenapa ingin mati?”
“aku hanya bosan hidup,”
Ia tidak menjawab. Justru ia menarik tanagnku menjauh dari tebing. Ia membawaku ke tempat penduduk. Ia membawaku ke sebuah ruamah dipinggiran desa. Rumah itu sederhana. Sama sekali tak ada kesan mewah di rumah tersebut.
“ini rumahku,”
“untuk apa kau membawaku ke sini?”
“ayo masuk,”
Ia membukakan pintu untuku. Aku hanya mengikutinya dan masuk kerumah tersebut.
“maaf, tidak sebesar rumahmu,”
Bagaimana ia tahu aku berasal dari keluarga berada?
“duduklah dulu, akan kuambilkan air minum untukmu,”
Ia berjalan ke dalam. Sedangkan aku hanay duduk di sofa ruang tamu rumah tersebut. Aku memandangi rumah tersebut. Tak ada yang menarik. Hanya rumah sederhana. Bahkan tak ada satupun foto si rumah ini.
“ini untukmu,” ucapnya sambil memberikanku segelas air minum.
“gomawoyo,” ucapku sambil mengambil gelas itu dan meminumnya.
“aku tahu kenapa kau mau bunuh diri,”
“apa?”
“kau bossan dengan hidupmu karena orang tuamu kan? Orang tua mu selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan denganmu. Mereka tidak memperhatikan mu. Bahakan ketika omma dan appa mu bertemu mereka hanya akan bertengkar. Iya kan?”
Aku tercengang mendengar ucapanya barusan. Semua yang ia ucapkan benar semua.
“bahkan, aku juga tau nama mu. Lee sungmin kan?”
Ia tahu nama ku? Bagaimana mungkin? Aku saja belum menyebutkan namaku.
“aku cho kyuhyun. Aku tinggal sendiri disini. Kalau kau mau, kau boleh tinggal disini,”
Aku hanya mengangguk setuju. Menurutku, tidak ada salahnya aku tinggal disini sementara waktu.
Satu minggu berlalu, aku mengerti kenapa ia mencegahku bunuh diri. Ia mengajariku tentang arti hidup ini. Bahwa hidup adalah suatu anugrah terbesar yang pernah diberikan tuhan kepada ciptaanya. Bahwa hidup bukanlah permainan. Hidup tidak hanya menyangkut diri sendiri. Tapi juga orang lain. Hidup adalah sesuatu yang harus aku lakukan selama aku masih diberi anugrah oleh tuhan. Ia mengajariku bagaiman aaku harus menyikapi hidupku. Ia benar – benar baik kepadaku. Setelah aku merasa baikan untuk pulang ke rumah. Aku memutuskan untuk pulang. Paling tidak sekedar untuk menjenguk omma dan appa. Walaupun aku tidak bertemu mereka. Paling tidak aku bertemu bibi dirumah. Aku berpamitan padanya. Ia bilang, jika aku mau, aku bisa ke sini lagi. Suatu saat nanti.
Aku pulang ke rumah selama seminggu. Rumah dalam keadaan membaik. Aku bertemu dengn omma dan appa. Keadaan mereka membaik. Karena itu, sekarang aku kembali lagi ke desa ini untuk mengucapkan terima kasih.
Aku berjalan menuju rumahnya. Kosong, aku tidak menemukan kyuhyun di dalam rumahna. Bahkan keadaan ruamh itu sepeti tidak dihuni orang dlam jangka waktu yang lama.
Aku memutuskan untuk bertanya pada tetangganya.
“kau tahu, ada dimana cho kyuhyun?”
“ah~ cho kyuhyun yang tinggal di rumah sederhana di pinggiran desa?”
“iya. Kau tahu sekrang ia ada dimana?”
“ia sudah meninggal,”
“meninggal? Kapan?”
“satu tahun yang lalu,”
‘satu tahun yang lalu? Lalu yang waktu itu siapa?’
“kau mau kuantar ke makamnya?”
“bisakah?”
“tentu saja. Mari saya antar,”
Aku pun dianatar menuju makam kyuhyun.
“kalau saya boleh tau, ia meninggal karena apa ya?”
“aku tak tahu pastinya. Sepertinya ia bunuh diri. Ia ditemukan di jurang dengn bebatuan lancip di situ,” jawabnya sambil menunjuk tebing yang dulu tempat aku ingin bunuh diri.
“kenapa ia bunuh diri?”
“kau ingin tahu cerita dari awalnya?”
“boleh,”
“ini kata orang desa. Ia pindah kesini sendiri. Waktu itu umurnya baru sekitar 17 tahun. Ia tinggal sendiri di rumah tersebut. 3 tahun setelah itu, ia pullkang ke rumahnya. Tapi itu tidak lama, sebulan kemudian, ia ditemukan tewas di jurang tersebut. Kata warga, ia bunuh diri karena masalah keluarga. Katanya orang tuanya hanya peduli terhadap pekerjaan dan selalu saja bertengkar. Ia tidak pernah di perhatikan. Begitu kata warga desa,”
Aku semakin tercengang. Semua itu sama denganku.
“ini makamnya,”
Aku duduk di sebelah makam yang ditunjuk. Aku mengelus lembut batu nisanya. Tak terasa, air mataku mengalir keluar.
“gomawoyo,”
Aku memandang langit. Membayangkan dirinya ada di atas sana. Ya, aku tahu kenapa ia mencegahku bunuh diri. Karena ia tidak mau ada orang lain yang mengalamai nasib yang sama sepertinya. Bunuh diri karena masalh keluarga.
Kembali aku amengelus batu nisan cho kyuhyun. Terima kasih cho kyuhyun. Kau membuatku lebih menghargai hidupku. Terima kasih. Gomawoyo.
kamu....keren.....banget...........
BalasHapus